Sunshine Projecting through My Tears
What a day.
Dan berjalanlah semua hal seperti yang seharusnya. Hari yang terus berganti. Kendaraan yang datang dan pergi. Orang-orang yang datang, singgah, dan kemudian pergi. Potongan-potongan gambar hidup yang terus berlari.
That’s life.
Kau seperti berdiri dalam riuh pasar malam (Pram), mencoba berhenti dan melihat semuanya dengan dimensi yang agak lain. Tapi semuanya tetap sama. Seperti hari-hari kemarin. Tak ada yang berubah. Ini seperti kereta tengah malam, di mana semua orang menumpanginya, menjemput sebuah titik akhir di sana. Mencoba mengisinya dengan kegiatan yang selalu saja sia-sia untuk melawan lupa.
Apa yang berharga dari semua ini? Sebuah penantian? Sebuah usaha? Sebuah kesunyian? Bukan apa-apa?
Dan itu sebuah sore yang terlambat. Seperti biasa, kau berjalan dari kantor di Ratulangi, setelah bertempur dengan sederet rasa lelah: translation, kontrak-kontrak, 2 kantor yang berbeda, pelanggaran HAM berat, konvensi anti penyiksaan, kasus Akayesu, research design gender-based HR violation, workshop DJ, konser 250 tahun Mozart. Dan sebuah sore yang terlambat.
Semua orang berlari-lari di dalam kereta menuju keabadaian di jauh sana. Kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi. Tidak peduli. Harus cepat!harus segera pulang! Harus segera di rumah! Ada yang menunggu di rumah! Istri, suami, anak-anak.
Dan kau berjalan dengan suara klakson menjerit-jerit di sisi kirimu. Lampu-lampu yang mulai berpendar (that citylights) dan pepohonan yang berbayang hitam.
Di dekat hotel Sofyan Betawi, di bawah rimbun pepohonan Bougenville berwarna merah, kau selalu bertemu hal yang sama. Sesuatu yang mencerap sore melelahkanmu. Sebuah pemandangan yang tak pernah masuk dalam laporan pemerintah atau pun World Bank. Sebuah catatan yang terserak di bawah meja-meja arsip. Catatan yang pernah muncul dalam laporan Krisis Asia di Newsweek. Gambar-gambar yang dengan indah dan mencekamnya ditempeli caption, Indonesian garbagepicker, the poorest of the poor.
Sebuah gerobak dengan kardus-kardus dan sampah di dalamnya. Seorang bapak-bapak yang memisahkan kardus-kardus di bawah tiang listrik. Dengan sampah dan plastic di sekitarnya. Bertelanjang kaki dan bercelana robek sana sini.
Di bawah pohon, seorang perempuan, ibu-ibu sedang berjongkok sambil melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang laki-laki itu. Di dekatnya seorang anak perempuan berusia 2 tahunan, berpakaian rombeng, tertawa-tawa mempermainkan kertas-kertas yang tak kalah rombengnya. Sang perempuan (ibunya for certain) kadang menggapai-gapai tubuh karena sang anak mencoba mengambil kertas-kertas dari hadapan ibunya.
Kau melihatnya seperti sebuah gambar slow motion di layar perak. Kau melihatnya setiap kali, setiap senja yang terlambat. Di tempat yang sama. Di bawah tiang listrik yang sama. Di bawah rimbun pohon Bougenvile yang sama.
Apakah mereka tidak ingin pulang ke ‘rumah’? Apakah mereka punya rumah? Apakah mereka tidak seperti orang-orang lain yang membunyikan klakson keras-keras, berlari dengan kecepatan tinggi, tidak peduli, dan ingin segera di rumah? Rumah? Seseorang yang menunggu di sana? Sebuah titik akhir? The end of a this endless journey?
Kau tahu bahwa rumah mereka adalah gerobak itu, rumah yang dibawa-bawa dalam punggung mereka. Rumah kesementaraan. Dan ribuan orang seperti itu. Di kota ini.
Kau ingin berhenti sejenak dan berpikir. Melihat anak perempuan itu bermain dan tertawa, kau hanya bisa tersenyum sambil menyesak dada. Apakah akan ada rumah lain bagi anak ini? Sekolah? Playgroup? Teman-teman bermain? Masa kecil yang indah? Surviving life?
Kau hanya bisa berpikir. Menghapus tetesan hangat di matamu yang rapuh. Banyak hal buruk telah terjadi pada hidup. Realitas yang tak bisa dipupuri dengan apapun, bahkan dengan darahmu sendiri.
Beberapa hari yang lalu sebuah telepon masuk ke phonecell-mu. Tiba-tiba dadamu sesak dan kepalamu berat. It’s simply unbearable. Sebuah berita buruk lagi. Sebuah pengharapan yang kau sendiri tak akan bisa menghadapinya. Kau seperti benar-benar tak punya rumah. Tak punya apa-apa. Tak punya punggung yang cukup kuat untuk menahan rumahmu sendiri.
Tapi apakah kau bisa berkata-kata?
Kau hanya ingin berjalan di sebuah senja yang terlambat, dan hujan turun deras sekali sehingga tak seorang pun tahu dan mendengar tangismu yang terhambat. Kau hanya ingin berjalan dalam diam, dalam rasa sedih yang diputar berulang-ulang. Pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah terjawab. Dan kenapa aku, katamu. Dan Tuhan memiliki banyak rencana, mungkin, dengan hidupmu yang terlalu singkat. Mungkin ia menggunakan tangan rapuhmu untuk bekerja atas orang-orang lain. Tapi kenapa aku, tanyamu. Kenapa bukan orang lain.
Kenapa ini terlalu berat? Kenapa kau tak punya pilihan? Apakah hidup pilihan?
Tidak.
Tidak. Kau bukan seseorang yang terpampang dalam sebuah halaman utama Newsweek dalam kolom kebangkrutan ekonomi atau pemogokan buruh. Kau bukan satu dari anak-anak berusia 13 tahun yang diperkosa sembilan kali di Somalia. Tentu saja kau bukan seorang perempuan beranak lima yang harus mengungsi di Burma hanya karena kau berasal dari suku Karen (dan suamimu diculik oleh junta militer). Kau bukan seorang dari perempuan-perempuan miskin di Calcuta yang harus mengangkut dan membersihkan kotoran seseorang yang berkasta lebih tinggi darimu.
Bukan, kau bukan seseorang yang mengidap mutasi gen karena tragedi Chernobyl. Kamu baik-baik saja. Kamu sehat. Kau tidak harus memikirkan tubuhmu. Kau tidak harus memikirkan kemana akan tidur hari ini. Kau tidak perlu berpikir kelak anakmu akan jadi apa. Akan di jalankah atau di medan perang atau di sebuah rumah bordil dengan mana dia harus menjual tubuhnya kepada banyak laki-laki. Kau bukan seseorang yang kelaparan dan dijadikan budak di Burkina Faso. Kau bukan ibu-ibu yang kehilangan anaknya dalam tragedi Tiannanmen. Kau bukan seseorang di pedesaan Flores dengan mana suamimu menjadi TKI illegal di Malaysia dan anakmu mengalami busung lapar.
Kau baik-baik saja. Kau cukup kuat untuk mencari uang, kau cukup sehat untuk berpikir rasional, kau cukup waras untuk bisa mencintai dengan benar. Dan kau cukup pintar untuk bisa memberikan portofoliomu yang biasa-biasa saja ke World Bank (dan bercita-cita menjadi Joseph Stiglitz baru).
Kau tampak baik-baik saja.
Sungguh.
Kadang kau berpikir, apa yang kurang dari hidupmu hanyalah, kau terlalu lemah. Kau terlalu mudah pecah.
Tapi kau terus bukan? Tanpa ketakutan. Dan mungkin tanpa harapan. (Albert Camus).
