pravdavero

Saturday, May 27, 2006

Sunshine Projecting through My Tears

What a day.
Dan berjalanlah semua hal seperti yang seharusnya. Hari yang terus berganti. Kendaraan yang datang dan pergi. Orang-orang yang datang, singgah, dan kemudian pergi. Potongan-potongan gambar hidup yang terus berlari.

That’s life.

Kau seperti berdiri dalam riuh pasar malam (Pram), mencoba berhenti dan melihat semuanya dengan dimensi yang agak lain. Tapi semuanya tetap sama. Seperti hari-hari kemarin. Tak ada yang berubah. Ini seperti kereta tengah malam, di mana semua orang menumpanginya, menjemput sebuah titik akhir di sana. Mencoba mengisinya dengan kegiatan yang selalu saja sia-sia untuk melawan lupa.

Apa yang berharga dari semua ini? Sebuah penantian? Sebuah usaha? Sebuah kesunyian? Bukan apa-apa?

Dan itu sebuah sore yang terlambat. Seperti biasa, kau berjalan dari kantor di Ratulangi, setelah bertempur dengan sederet rasa lelah: translation, kontrak-kontrak, 2 kantor yang berbeda, pelanggaran HAM berat, konvensi anti penyiksaan, kasus Akayesu, research design gender-based HR violation, workshop DJ, konser 250 tahun Mozart. Dan sebuah sore yang terlambat.

Semua orang berlari-lari di dalam kereta menuju keabadaian di jauh sana. Kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi. Tidak peduli. Harus cepat!harus segera pulang! Harus segera di rumah! Ada yang menunggu di rumah! Istri, suami, anak-anak.

Dan kau berjalan dengan suara klakson menjerit-jerit di sisi kirimu. Lampu-lampu yang mulai berpendar (that citylights) dan pepohonan yang berbayang hitam.
Di dekat hotel Sofyan Betawi, di bawah rimbun pepohonan Bougenville berwarna merah, kau selalu bertemu hal yang sama. Sesuatu yang mencerap sore melelahkanmu. Sebuah pemandangan yang tak pernah masuk dalam laporan pemerintah atau pun World Bank. Sebuah catatan yang terserak di bawah meja-meja arsip. Catatan yang pernah muncul dalam laporan Krisis Asia di Newsweek. Gambar-gambar yang dengan indah dan mencekamnya ditempeli caption, Indonesian garbagepicker, the poorest of the poor.

Sebuah gerobak dengan kardus-kardus dan sampah di dalamnya. Seorang bapak-bapak yang memisahkan kardus-kardus di bawah tiang listrik. Dengan sampah dan plastic di sekitarnya. Bertelanjang kaki dan bercelana robek sana sini.
Di bawah pohon, seorang perempuan, ibu-ibu sedang berjongkok sambil melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang laki-laki itu. Di dekatnya seorang anak perempuan berusia 2 tahunan, berpakaian rombeng, tertawa-tawa mempermainkan kertas-kertas yang tak kalah rombengnya. Sang perempuan (ibunya for certain) kadang menggapai-gapai tubuh karena sang anak mencoba mengambil kertas-kertas dari hadapan ibunya.

Kau melihatnya seperti sebuah gambar slow motion di layar perak. Kau melihatnya setiap kali, setiap senja yang terlambat. Di tempat yang sama. Di bawah tiang listrik yang sama. Di bawah rimbun pohon Bougenvile yang sama.

Apakah mereka tidak ingin pulang ke ‘rumah’? Apakah mereka punya rumah? Apakah mereka tidak seperti orang-orang lain yang membunyikan klakson keras-keras, berlari dengan kecepatan tinggi, tidak peduli, dan ingin segera di rumah? Rumah? Seseorang yang menunggu di sana? Sebuah titik akhir? The end of a this endless journey?

Kau tahu bahwa rumah mereka adalah gerobak itu, rumah yang dibawa-bawa dalam punggung mereka. Rumah kesementaraan. Dan ribuan orang seperti itu. Di kota ini.

Kau ingin berhenti sejenak dan berpikir. Melihat anak perempuan itu bermain dan tertawa, kau hanya bisa tersenyum sambil menyesak dada. Apakah akan ada rumah lain bagi anak ini? Sekolah? Playgroup? Teman-teman bermain? Masa kecil yang indah? Surviving life?

Kau hanya bisa berpikir. Menghapus tetesan hangat di matamu yang rapuh. Banyak hal buruk telah terjadi pada hidup. Realitas yang tak bisa dipupuri dengan apapun, bahkan dengan darahmu sendiri.

Beberapa hari yang lalu sebuah telepon masuk ke phonecell-mu. Tiba-tiba dadamu sesak dan kepalamu berat. It’s simply unbearable. Sebuah berita buruk lagi. Sebuah pengharapan yang kau sendiri tak akan bisa menghadapinya. Kau seperti benar-benar tak punya rumah. Tak punya apa-apa. Tak punya punggung yang cukup kuat untuk menahan rumahmu sendiri.
Tapi apakah kau bisa berkata-kata?

Kau hanya ingin berjalan di sebuah senja yang terlambat, dan hujan turun deras sekali sehingga tak seorang pun tahu dan mendengar tangismu yang terhambat. Kau hanya ingin berjalan dalam diam, dalam rasa sedih yang diputar berulang-ulang. Pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah terjawab. Dan kenapa aku, katamu. Dan Tuhan memiliki banyak rencana, mungkin, dengan hidupmu yang terlalu singkat. Mungkin ia menggunakan tangan rapuhmu untuk bekerja atas orang-orang lain. Tapi kenapa aku, tanyamu. Kenapa bukan orang lain.

Kenapa ini terlalu berat? Kenapa kau tak punya pilihan? Apakah hidup pilihan?

Tidak.

Tidak. Kau bukan seseorang yang terpampang dalam sebuah halaman utama Newsweek dalam kolom kebangkrutan ekonomi atau pemogokan buruh. Kau bukan satu dari anak-anak berusia 13 tahun yang diperkosa sembilan kali di Somalia. Tentu saja kau bukan seorang perempuan beranak lima yang harus mengungsi di Burma hanya karena kau berasal dari suku Karen (dan suamimu diculik oleh junta militer). Kau bukan seorang dari perempuan-perempuan miskin di Calcuta yang harus mengangkut dan membersihkan kotoran seseorang yang berkasta lebih tinggi darimu.

Bukan, kau bukan seseorang yang mengidap mutasi gen karena tragedi Chernobyl. Kamu baik-baik saja. Kamu sehat. Kau tidak harus memikirkan tubuhmu. Kau tidak harus memikirkan kemana akan tidur hari ini. Kau tidak perlu berpikir kelak anakmu akan jadi apa. Akan di jalankah atau di medan perang atau di sebuah rumah bordil dengan mana dia harus menjual tubuhnya kepada banyak laki-laki. Kau bukan seseorang yang kelaparan dan dijadikan budak di Burkina Faso. Kau bukan ibu-ibu yang kehilangan anaknya dalam tragedi Tiannanmen. Kau bukan seseorang di pedesaan Flores dengan mana suamimu menjadi TKI illegal di Malaysia dan anakmu mengalami busung lapar.

Kau baik-baik saja. Kau cukup kuat untuk mencari uang, kau cukup sehat untuk berpikir rasional, kau cukup waras untuk bisa mencintai dengan benar. Dan kau cukup pintar untuk bisa memberikan portofoliomu yang biasa-biasa saja ke World Bank (dan bercita-cita menjadi Joseph Stiglitz baru).

Kau tampak baik-baik saja.
Sungguh.

Kadang kau berpikir, apa yang kurang dari hidupmu hanyalah, kau terlalu lemah. Kau terlalu mudah pecah.

Tapi kau terus bukan? Tanpa ketakutan. Dan mungkin tanpa harapan. (Albert Camus).

Friday, October 07, 2005

Move to...........

I have moved to http://pravdavero.multiply.com

Tuesday, August 23, 2005

Gloomy index 16: It's hard, tough

It's hard, though
I try hard to take my eyes of you, but still find you everywhere
life is butterfly,
and you are the leaves

just stop me
if it should be
don't torment me
set me free

ZAPP

Bessy, saya tidak gemeteran, tapi hati saya rontok.
namanya zeke.
saya sudah mendengar lagunya sejak unrescued world,
ketika sound itu bikin lutut saya lemas
dan saya berjanji untuk mencari orang itu di manapun

Friday, August 19, 2005

Birthday Puzzle

Happy Birthday to friend, Ucu, today.
(Happy Birthday to you. tomorrow? You? oh, no!)

It was midnight, over midnight, late night, almost dawn.
We (4 persons) passed by menteng, monas, sudirman, and then plaza semanggi.
rooftop.
a place near the sky
that enable you see jakarta view at night
and feel the frozen breeze
dim light
the solitude of jakarta
the highest place that you feel you were near death
8th or above floor
nothing except the sky, the moon, the star, damn cold wind, somewhere below: sudirman, senayan, crowne plaza, balai sarbini, the unforgiven semanggi fly over.............stupid truth and dare games, all night long curhat.

I was so up
so up
my feet were trembling
my hair were so messy
my mind almost gone

a gay, eurasia friend (working for recording company, very young and talented curator)
esmod graduate virgin
writer who has the day
nobody

that,s mad
really
going somewhere on the sky
found yourself tiredless on the posh apartment near the plaza
slept while others subuhan

thanks god,
it,s friday.

Thursday, August 18, 2005

Solitude@Senayan

Tiga perempuan. lajang.
di sebuah pusat perbelanjaan di selatan jakarta.
seseorang yang bekerja untuk sebuah galeri foto. fast growing.
seseorang yang bekerja untuk UN. recent to move here to Indonesia from switzerland.
seseorang yang bekerja magang untuk sebuah institusi asing.

memandang jakarta di luar.
tampak abu-abu.
udara yang cabar.
cuaca yang layu.
dari balik jendela-jendela kaca dengan bingkai hijau
dan seruak wewangian dari shanghai tang
es cokelat yang membekukan.

semua tampak sunyi
hanya derit pembicaraan
tentang seseorang di luar
yang barangkali kehujanan

jakarta dingin sekali
senja itu

Saturday, August 13, 2005

what more to be expected?

senja itu, saya sendirian di sebuah stasiun di pusat kota jakarta
bersama commuters lain dari kota lain
dan langit tampak lembayung sore itu
abu-abu
karena asap karbon mulai memenuhi paru-parunya dari daerah Menteng dan Kemayoran

saya di sebuah kereta eksekutif yang demi Tuhan, baru sekali ini saya naiki, sebuah kereta yang bisa membawa saya ke stasius gubeng di surabaya sana
dengan iringan menunggu sebuah jawaban padi di kedinginan ruang
saya hampir beku
dan ingatan-ingatan yang pernah saya taruh di situ
di stasiun-stasiun
dan kereta-kereta peninggalan Belanda

sehari sebelumnya,
dalam perjalanan dari kemang ke menteng,
dalam kesendirian yang dingin dan kesunyian sudirman yang telah ditinggalkan
saya seperti menemukan alter ego saya yang selama ini menghilang


what more can be expected?
saya pikir, kesedihan yang melanda itu benar-benar tidak pantas untuk saya
saya memiliki cukup alasan --selalu-- untuk bersyukur
untuk bahagia
untuk bergembira dengan semua yang sudah saya dapatkan
saya tidak butuh starbuck, coffee bean, embassy, mango, plasa senayan, sepatu VNC, tas blood bross, seorang laki-laki dengan kaos merah (yang apakah masih worthed?)
untuk bahagia
untuk menjadi diri sendiri
dan melepaskan diri dari segenap dikte dan doktrin dunia modern bernama industri gaya hidup
saya cukup sarapan di kantor jam sembilan pagi, mulai menyalakan internet untuk membuka email, pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan katalogisasi film-film Jerman, dan bersantai-santai di sore hari sambil membaca majalah-majalah dari meja mbak novi. sambil mengeja kata-kata asing di agenda (montag, dienstag, donnerstag, freitag, samstag, und sonntag)

ya, saya hanya sekadar meyakinkan diri saya sendiri.
saya pikir saya cukup rapuh
dan saya sedang berusaha menjadi lebih kuat

apa lagi yang saya harapkan?

Thursday, August 11, 2005

happy days?

spiritously wake up
entah kenapa,
sejak tadi pagi hidup seperti sangat lapang
hari ini menonton 3 film
dan masih ada berpuluh-puluh film tersisa yang harus dilihat
setiap sore mata sudah kayak pemabuk: merah-merah

what do you think?
dibayar oleh sebuah instituti asing untuk menonton film dari jam 9 sampai jam 3 sore,
kemudian di depan komputer, membuka imdb dan copy-paste

mungkin aku akan menulis lagi
kemarin sudah mulai
tapi ingin seperti
film jerman dan trauma politik atau judul2 norak semacam itu.
ok,
habis ini harus ke aksara
harus?
nonton film lagi
ahhh, tiba-tiba ruang ini lebih homey dari apapun
dan aku agak gugup harus pergi ke kemang.
gugup?
itu tadi malam

sudah berlalu nona.
dan ini bukan surabaya.
cus.